PEST Analysis sebagai Strategi Peningkatan Layanan Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha

PEST analysis memberikan gambaran bagaimana peluang, ancaman, situasi, dan posisi beberapa perguruan tinggi saat ini. Analisis menghasilkan arah perencanaan dan langkah-langkah strategis perguruan tinggi untuk segera terimplementasi guna keluar dari permasalah dan hambatan yang ada.

Pendidikan tinggi merupakan gerbang utama pencetak insan-insan intelektual melalui berbagai proses yang dilakukan. Perkembangan agama tidak terlepas dari peran masyarakat intelektual dengan berbagai kompetensi yang dimiliki. Perguruan tinggi menjadi basis utama dalam pendidikan tinggi, penemuan, dan riset baru yang dapat digunakan dalam mendukung dan menjadi dasar layanan bidang agama dan keagamaan. Peran strategis perguruan tinggi (Swasta maupun Negeri) dalam mencetak SDM intelektual tidak terlepas dari berbagai permasalahan internal maupun eksternal organisasi. Lingkungan eksternal organisasi menjadi faktor yang berpengaruh besar terhadap perkembangan perguruan tinggi dalam operasional, memberikan layanan, dan jasa pendidikan yang diberikan.

Perguruan Tinggi Agama Buddha

Lingkungan Eksternal Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha di Indonesia

Dinamika politik dan legalitas, perekonomian masyarakat, pergeseran dan perubahan kehidupan sosial, serta kemajuan teknologi memberikan pengaruh besar terhadap keberlangsungan perguruan tinggi dalam menjalankan tugas dan fungsi, tidak terkecuali pendidikan keagamaan Buddha. PEST analysis memberikan gambaran situasi dan kondisi lingkungan eksternal organisasi ditinjau dari faktor politik/hukum, ekonomi, sosial, dan teknologi. Beberapa fakta menampilkan berbagai kendala Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha (PTKB) di Indonesia tidak lepas dari faktor politik (Hukum dan Perundang-undangan), status ekonomi masyarakat, sosial kultural dan pesaing, serta bagaimana mengadopsi teknologi yang berkembang dalam dunia pendidikan.

Dengan analisis mendalam terhadap data kualitatif perguruan tinggi serta berbagai faktor politik/hukum, ekonomi, sosial, dan teknologi yang mempengaruhi, PEST analysis memberikan gambaran bagaimana peluang, ancaman, situasi, dan posisi beberapa perguruan tinggi saat ini. Analisis menghasilkan arah perencanaan dan langkah-langkah strategis perguruan tinggi untuk segera terimplementasi guna keluar dari permasalah dan hambatan yang ada, serta memberikan layanan yang maksimal dalam dunia pendidikan.

Presentation at Indonesia panel in the Buddhism in Contemporary World: Challenges and Opportunities Conference, taking place in Magelang, Indonesia from November 10-14, 2016

dimuat dalam prosiding 4th IATBU Conference 2016

Knowledge Management sebagai Strategi Revolusi Pengetahuan Profesi Dharmaduta

Bentuk dan pola knowledge management yang dapat digunakan dalam mendukung dan peningkatan efektivitas tugas dan fungsi profesi Dharmaduta.

Tujuan kajian adalah mendeskripsikan bagaimana knowledge management dalam profesi dharmaduta. Data-data dikumpulkan melalui berbagai pustaka, seperti buku-buku dan sumber referensi lain baik primer dan skunder. Untuk selanjutanya metode analisis yang digunakan adalah konten analisis, dengan penjabaran secara deskriptif dan menarasikan kembali secara mendalam. Hasil kajian mendeskripsikan bentuk dan pola knowledge management dalam profesi dharmaduta yang dapat digunakan dalam mendukung dan efektivitas tugas dan fungsi. Pembelajaran untuk dharmaduta, knowledge sharing dan knowledge transfer bagi dharmaduta, knowledge storage dan externalization, lingkungan organisasi dan implementasi knowledge dharmaduta, explicit knowledge menjadi tacit knowledge, dan faktor pendukung seperti faktor manusia dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan pola dan bentuk knowledge management yang harus segera diimplementasikan oleh seorang dharmaduta.

Pembahasan

Knowledge management sangat penting bagi seorang dharmaduta. Knowledge yang dimiliki seorang dharmaduta baik tacit dan explicit dapat di share kepada dharmaduta lain, pada akhirnya knowledge yang ada akan digunakan untuk mencapai tujuan dalam pelayanan, pengabdian, pembinaan, dan secara khusus menyebarkan dan membabarkan dharma. Bentuk dan pola knowledge management dapat diterapkan dan diimplementasikan untuk mendukung tugas dan fungsi sebagai seorang dharmaduta. Adapaun bentuk dan pola knowledge management dharmaduta sebagai berikut:

Pembelajaran untuk Dharmaduta

Perubahan permanen pada perilaku sebagai akibat dari pengalaman dapat diperoleh melalui pembelajaran. Pembelajaran untuk dharmaduta dapat dilakukan secara kolektif, baik yang terjadi secara alami maupun melalui program yang terencana dalam organisasi. Pembelajaran merupakan aspek yang krusial untuk membuka dan membentuk knowledge baru. Pendidikan merupakan penciptaan knowledge (knowledge creation) bagi dharmaduta, dapat dilakukan melalui pelatihan, kursus, sekolah, dan kuliah. Perkuliahan jurusan dharmaduta telah tersedia dibeberapa Sekolah Tinggi Agama Buddha baik yang dibiayai pemerintah (Negeri) seperti Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Negeri Sriwijaya Tangerang Banten dan STAB Raden Wijaya maupun sekolah tinggi swasta. Beberapa organisasi keagamaan buddhis seperti MAGABUDHI juga telah membuka kursus dharmaduta.

Tidak dipungkiri, hasil observasi menunjukkan para dharmaduta yang kurang menguasai pengetahuan Agama Buddha secara mendalam. Knowledge yang dimiliki lebih banyak terbatas pada hasil dari pengalaman dimasyarakat tidak melalui formal melalui perguruan tinggi. Pengetahuan Abhidhamma, Sutta, dan vinaya dalam Agama Buddha dirasa masih sangat kurang, hasilnya seorang dharmaduta kurang efektif dalam berceramah, pembabaran, dan pengembangan Agama Buddha. Oleh karena itu pembelajaran bagi seorang dharmaduta harus segera diimplementasikan. Dharmaduta harus dituntut untuk peningkatan knowledge melalui kuliah dan kursus bidang Agama Buddha sehingga memungkinkan terjadinya penciptaan pengetauan.

Dengan pembelajaran dan pendidikan, penciptaan pengetahuan akan meningkat, setiap dharmaduta dapat meningkatkan efektivitas dalam menjalankan tugas dan fungsi. Melalui pendidikan dalam bentuk kursus, sekolah, dan perkuliahan, seorang dharmaduta dibekali kompetensi yang kuat dalam melakukan tugas dan fungsi sebagai penyebar dan pembababar dharma. Kemampuan dan penguasaan pengetahuan Agama Buddha akan semakin meningkat. Kemampuan dan pemahaman ajaran Agama Buddha juga akan didukung dengan legalitas seperti ijazah dan bentuk-bentuk sertifikat lainnya yang memberikan nilai positif terhadap profesi seorang dharmaduta.

Knowledge Sharing dan Knowledge Transfer Dharmaduta

Knowledge yang didapatkan hasil pembelajaran dan pengalaman harus berguna bagi para dharmaduta lainnya dan bagi masyarkat yang membutuhkan. Knowledge sharing (KS) merupakan tahapan dalam KM, dimana dengan KS seorang dharmaduta dapat membagi informasi, pengetahuan, dan pengalaman (knowledge) yang didapat dalam keseharian. KS dharmaduta dapat dilakukan dalam bentuk seminar dharmaduta, pelatihan, workshop, dan kursus yang dapat diadakan oleh organisasi seperti majelis, baik majelis cabang, daerah, dan majelis pusat. Pertemuan dan diskusi kecil antara kelompok dharmaduta juga dapat dilakukan, dengan demikian akan menciptakan knowledge baru dan merevolusi pengetahuan bagi dharmaduta yang tergabung dalam kelompok diskusi.

Sharing membentuk adanya knowledge transfer (KT), bagaimana knowledge ditransfer antar dharmaduta, dharmaduta dengan kelompok, dan kelompok pada kelompok dalam organisasi. Kaitannya dengan profesi juga bagaimana pengetahuan dharma dari seorang dharmaduta ditransfer kepada masyarakat, dalam hal ini umat Agama Buddha. KT dapat terjadi pada kegiatan berdiskusi, seminar, belajar dan pembelajaran, serta bekerja kelompok untuk saling berbagi knowledge. Ceramah yang diberikan dharmaduta juga merupakan implementasi KS seorang dharmaduta kepada masyarakat dan kelompok umat beragama.

Knowledge Storage dan Externalization

Bagaimana seorang dharmaduta menjadikan knowledge yang tidak tertulis (tacit) menjadi knowledge yang tertuang dalam bentuk siap pakai oleh orang lain (explicit). Untuk mewujudkan tacit menjadi explicit proses eksternalisasi harus segera dilakukan. Kemampuan mendokumentasikan dan mewujudkan knowledge dalam bentuk dokumen dan tulisan menjadi sangat penting dan segera dilakukan. Menulis buku, jurnal, artikel, dan penelitian harus dilakukan oleh seorang dharmaduta, khususnya oleh para dharmaduta yang telah banyak pengalaman dalam melakukan pembinaan, menyebaran, dan pembabaran dharma kepada masyarakat.

Penyimpanan explicit knowledge juga membutuhkan manajemen yang baik. Komputer yang tersedia pada organisasi, yayasan, vihara, cetiya, dan pada lembaga-lembaga lain tempat para dharmaduta berada dapat digunakan sebagai alat penyimpanan knowledge. Melalui pendanaan yang baik juga dapat diciptakan sebuah Knowledge Management System (KMS), sehingga pengetahuan dapat digunakan dengan baik dan cepat ketika dibutuhkan, membawa nilai tambah bagi organisasin dan dharmaduta untuk mencapai tujuan.

Lingkungan Organisasi dan Implementasi Knowledge Dharmaduta

Lingkungan yang memfasilitasi budaya KS merupakan komponen penting implementasi KM. Selain lingkungan internal, lingkungan external juga berpengaruh terhadap proses KM. Kebijakan pemerintah, sumber pendanaan, trend dan kemajuan masyarakat yang semakin berkembang akan berpengaruh terhadap proses implementasi KM. Untuk itu setiap organisasi, yayasan, dan berbagai institusi yang bergerak dalam bidang Agama Buddha harus segera menciptakan lingkungan dengan budaya KS. Melakukan berbagai manajemen dan kebijakan guna terciptanya budaya sharing dan KM yang baik. Dengan demikian setiap dharmaduta tentunya akan menjadi bagian dari organisasi yang melakukan penerapan dan implementasi KM.

Knowledge Application (KA), mengaplikasikan knowledge merupakan integrasi knowledge kedalam proses dan aktivitas, operasional, serta tugas dharmaduta. Dharmaduta secara fungsi dalam organisasi secara mandiri menggunakan KM untuk digunakan mencapai tujuan individu dan organisasi. Knowledge yang dimiliki oleh setiap dharmaduta digunakan untuk menjalankan tugas dan fungsi, untuk selanjutnya memberikan kontribusi besar terhadap keberhasilan seorang dharmaduta dalam pembabaran dharma, pembinaan, dan pengembangan Agama Buddha.

Explicit Knowledge menjadi Tacit Knowledge

Tahapan ini merupakan internalisasi explicit knowledge menjadi tacit knowledge. Bagaimana hasil pemikiran dalam bentuk buku, jurnal, artikel, dan penelitian oleh seorang dharmaduta akan memberikan pengetahuan dan pengalaman baru bagi seorang dharmaduta. Organisasi hendaknya membentuk budaya membaca, dan seorang dharmaduta harus memiliki kemampuan akses informasi untuk mencari sumber-sumber pengetahuan bagi pengembangan dan peningkatan knowledge. Buku-buku referensi buddhis dan internet dapat dijadikan sebagai sumber belajar dan pembelajaran bagi seorang dharmaduta.

Human Factor Knowledge Management

Salah satu faktor pendukung implementasi KM dharmaduta adalah faktor manusia (human factor) dan faktor teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Human factor adalah bagaimana semua dharmaduta mempunyai pengetahuan yang dapat menjadi aset yang digunakan bersama untuk mencapai tujuan profesi dharmaduta dan pembabaran dharma secara efektif. Sumber Daya Manusia (SDM) dalam hal ini seorang dharmaduta dengan segala knowledge yang dimiliki menjadi aset penting dalam mencapai tujuan profesi dharmaduta dan organisasi.

TIK dapat menjadi alat dalam mencari, menciptakan, dan menyimpan knowledge yang dimiliki dharmaduta. Dengan kemanjuan TIK akan memudahkan seorang dharmaduta dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Mencari sumber-sumber pengetahuan melalui internet, melakukan sharing dan knowledge transfer antar sesama dharmaduta juga dapat didukung dengan dukungan TIK. Sistem komputer juga menjadi solusi dalam melakukan penyimpanan knowledge sehingga dapat digunakan kapan saja secara bersama seperti Knowledge Management System (KMS).

oleh Heriyanto, M.Kom., dimuat dalam prosiding seminar ilmiah 18 Januari 2016, Peran Pendidikan dalam Revolusi Mental, Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang Banten