The Understanding of Buddhist Economics in Quality Increase Economy Householders (Gharavasa)

Pemahaman Ekonomi Buddhis dalam peningkatan ekonomi perumah tangga. Ekonomi Buddhis dalam peningkatan Kesejahteraan perumah tangga.

Widianti, Retno. 2013. The Understanding of Buddhist Economics in Quality Increase Economy Householders (Gharavasa). Essay. Dharmacarya Majors. Sriwijaya High School State Religion Buddha, Tangerang Banten. Mentor I Gimin Edi Susanto, B.A. (Hons) and Mentor II Heriyanto, M.Kom.

RETNO WIDIANTI

Artikel ini merupakan simpulan eksekutif dari skripsi untuk mendapat gelar akademik Sarjana Pendidikan Buddha pada Programa Studi Pensdidikan Agama Buddha Jurusan Dharmacarya Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang Banten

Abstract

The problem which is studied in this study is the low quality of Buddhists economy householders, low levels in education, lack of skills and abilities in developing businesses in obtaining income. The purpose of this study was to determine and describe the importance of understanding the Buddhist economics to improve the economy in particular Buddha house holder. Through this research, it can be seen how much influence the economic understanding Buddhist householders in improving the economy.

To achieve the above objective, the authors use the method of literature review. Recall data were analyzed in the form of text is qualitative, the authors use data analysis directly examined the books of research, the study’s authors concluded. Buddhist society results occurred because of the public’s understanding of the importance of Buddhist economics to obtain a good   economy. Thus it can be improved by understanding Buddhist economics.

The Understanding of Buddhist economics play an important role in improving the quality of householders’ economy. Buddhist economics is helpful understanding householders to solve poverty problems that occur. Finally the authors suggested that the government and the community working together to create a society that has a good understanding through Buddhist economics to improve the quality of a good economy for householders.

Pemahaman Ekonomi Buddhis

Pemahaman Ekonomi Buddhis dalam Peningkatan Kesejahteraan Perumah Tangga

Gambar http://zigbone.deviantart.com

Perumah tangga berarti orang yang masih melakukan sesuatu yang berkenaan dengan urusan kehidupan di rumah, baik dia berkeluarga atau tidak. Perumah tangga (gharavasa) adalah orang yang menjalani hidup berkeluarga atau tidak; mempunyai pekerjaan, seperti: petani, pedagang, militer dan lain-lain yang memberikan penghasilan untuk biaya kehidupan mereka, gharavasa terdiri dari upasaka (laki-laki), dan upasika (perempuan) (Rashid, 2003: 23). Keluarga sejahtera seutuhnya memenuhi berbagai aspek. Beberapa aspek itu tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan. Menurut Utama (2010: 23) terdapat tujuh aspek untuk keluarga sejahtera: (1) aspek fisik, (2) aspek psikis, (3) aspek intelektual, (4) aspek kultural, (5) aspek religius, (6) aspek moral, (7) aspek sosial.

Keluarga dibentuk melalui pertemuan dua insan yang berbeda untuk membentuk suatu keluarga melalui perkawinan. Perkawinan menurut Undang-Undang No 1 Tahun 1974 adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Virya, 2009: 7). Perkawinan dalam agama Buddha adalah suatu ikatan lahir dan batin dari dua orang yang berbeda kelamin dengan melaksanakan Dhamma dan Vinaya untuk mendapatkan kebahagiaan kehidupan sekarang dan yang akan datang. Tujuan perkawinan menurut agama Buddha adalah untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik dalam kehidupan sekarang maupun dalam kehidupan yang akan datang.

Keluarga yang harmonis, bahagia, dan sejahtera (hita sukhaya) merupakan tujuan dalam perkawinan. Perkawinan yang dibentuk harus berdasarkan sikap saling setia, saling mengalah, saling percaya, saling menghormati, saling membantu, dan saling bersahabat merupakan dasar membentuk keluarga bahagia. Keluarga yang bahagia dan harmonis akan tumbuh secara sadar apabila masing-masing anggota keluarga menjalankan tanggung jawabnya dan mengembangkan keterbukaan kasih sayang dan pikiran cinta kasih.

Kesejahteraan suatu keluarga sangat ditunjang oleh adanya kestabilan ekonomi. Keadaan ekonomi keluarga dikatakan stabil jika terdapat keseimbangan antara pendapatan dengan pengeluaran. Setiap keluarga mempunyai keinginan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kebutuhan keluarga, sedangkan pendapatan keluarga terbatas. Keadaan tersebut menimbulkan ketidakstabilan ekonomi keluarga. Ketidakstabilan ekonomi disebabkan oleh tingkat pendapatan, pendidikan, tenaga kerja, dan modal yang dimiliki.

Konsep Ekonomi Buddhis

Konsep Ekonomi Buddhis

Seseorang yang ingin hidupnya bahagia pada kehidupan sekarang ini dan yang akan datang harus mempunyai empat hal yaitu:

  1. Kerja Keras (Utthanasampada)
  2. Melindungi Kekayaan (Arakkhasampada)
  3. Bekerja Sama dengan Orang-Orang yang Baik (Kalyanamitta)
  4. Kehidupan yang Seimbang (Samajivikata)

Konsep ekonomi dalam agama Buddha terdapat di dalam Sigalaka Sutta, dalam sutta tersebut Buddha menganjurkan bahwa “orang-orang yang bekerja keras tanpa membuang-buang waktu mereka yang sangat berharga untuk mendapatkan uang, menabung untuk masa depan untuk menopang keluarga, memenuhi tugas dan kewajiban hati-hati dengan mengeluarkan uang dari apa yang dihasilkan dengan tanpa boros”. Sang Buddha menganjurkan untuk tidak menunda suatu pekerjaan pada saat itu atau sekarang karena dalam pemenuhan kebutuhan pokok dan sebagai kunci keberhasilan rumah tangga tidak menunda suatu pekerjaan. Konsep dasar ekonomi dalam hal ini menyatakan bahwa suatu diri manusia jika tidak aktif maka perekonomian tidak seimbang.

Agama Buddha tidak mengajarkan ilmu ekonomi, tetapi prinsip moral dan agama yang diajarkan melatar belakangi manusia untuk mengembangkan dirinya. Ekonomi Buddhis adalah pendekatan secara spiritual untuk sebuah ekonomi, hal itu digunakan untuk menguji kejiwaan manusia tentang rasa kegelisahan dan emosi secara langsung terhadap aktivitas ekonomi. Hal itu dilakukan untuk menghapuskan kebingungan antara apa yang benar-benar bermanfaat dan berbahaya di bidang ekonomi dan nantinya membuat manusia untuk lebih dewasa dalam beretika. Konsep ekonomi Buddhis adalah penghidupan atau mata pencaharian yang benar sesuai dengan Jalan Mulia Beruas Delapan.

Karakteristik utama dari ekonomi Buddhis yaitu selalu berada pada Jalan Tengah yang berlandaskan welas asih dan kebijaksanaan. Cara-cara yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup tidaklah boleh merugikan orang lain dan diri sendiri. Selain itu tidak boleh merugikan makhluk lain dan lingkungan hidup. Ciri ekonomi Buddhis adalah keseimbangan antara kebahagiaan yang bersifat materi dengan kebahagiaan yang didapat melalui spiritual.

Dalam agama Buddha tidak melarang umat awam untuk memiliki kekayaan, namun yang terpenting harus mempraktikkan Paramitta, yakni membantu yang miskin dari kekurangan tetapi tetap memegang teguh moralitas dan disiplin. Orang kaya yang menghalalkan segala cara merugikan dan menindas kaum miskin, menjadi sombong dan berperilaku semaunya sangat bertentangan dengan Buddha Dhamma.

Pengaturan tentang kekayaan terdapat dalam Sigalaka Sutta yaitu: “ekena bhoge bhujeyya (satu bagian untuk dinikmati), dvihi kammam payojaye (dua bagian untuk ditanamkan kembali ke dalam modalnya), catutavca nidhapeyya (bagian ke empat disimpan), apadasu bhavissanti (untuk menghadapi masa depan yang sulit)” (Walshe, 2009: 490). Sang Buddha telah menasihati pedagang untuk menghindari penipuan dengan jalan menipu alat pengukur timbangan (tulakuta), dan menipu dengan memalsukan uang. Selain itu dalam Anguttara Nikaya menjelaskan bahwa seseorang seharusnya menghindari lima perdagangan yang dapat membahayakan dirinya sendiri dan juga makhluk lain, seperti: perdagangan perbudakan (satta vanija), perdagangan persenjataan (sattha vanija), perdagangan makhluk hidup (mamsa vanija), perdagangan minum-minuman keras (majja vanija), dan perdagangan racun (visa vanija).

Sang Buddha menganjurkan umat berkeluarga bekerja keras untuk mengatasi kemiskinan. Seseorang tidak boleh malas, karena kemalasan merupakan rintangan terbesar dalam mengatasi kemiskinan. Berkaitan dengan mengumpulkan kekayaan bagi umat berkeluarga Sang Buddha memberikan perhatian khusus pada enam pekerjaan yang ada pada saat itu yaitu: pertanian, perdagangan, peternakan, pelayanan dalam pertahanan, pelayanan dalam pemerintahan, pelayanan profesional.

Kebahagiaan yang sederhana berawal dari kondisi ekonomi yang baik. Pemahaman ekonomi Buddhis sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas perekonomian yang baik dan memfasilitasi seluruh kebutuhan keluarga agar tercipta keluarga yang berkecukupan. Dengan memiliki perekonomian yang baik sehingga akan menekan munculnya perselisihan dalam keluarga dengan latar belakang ekonomi.

Kesejahteraan dalam kehidupan perumah tangga bukan didapat dari kekayaan, melainkan dari kesederhanaan dan pengaturan ekonomi yang baik. Pengaturan ekonomi tidak akan berhasil dengan baik apabila tidak disertai dengan gaya hidup sederhana. Kesederhanaan tidak hanya menandai gaya hidup anggota Sangha tetapi juga mempengaruhi gaya hidup perumah tangga. Seseorang mungkin hidup sederhana karena terpaksa, namun seorang pengikut Buddha hidup sederhana karena menghargai nilai-nilai kesederhanaan, walaupun sangat kaya, gaya hidupnya tidak mewah dan tidak berlebihan. Menjadi orang modern pun tetap sederhana, kesederhanaan merupakan obat mujarab bagi penyakit modern. Kesederhanaan menjauhkan seseorang dari keserakahan atau keinginan yang berlebihan. Dengan memiliki sedikit keinginan membebaskan diri dari hawa nafsu, batin dan jasmani akan tenang.

Umat Buddha harus mengambil jalan tengah, sehingga tidak hanya mempertimbangkan keuntungan untuk diri sendiri, tetapi juga memperhatikan pihak lain. Seorang pedagang dapat mengambil keuntungan yang wajar dan menjamin barangnya bukan barang palsu, selundupan atau barang hasil curian. Menjalankan penghidupan secara benar tidak merugikan makhluk lain, tidak mencelakakan orang lain, tidak menyakiti atau membuat pihak lain menderita. Perumah tangga yang membuka usaha perdagangan dengan berdagang yang benar, dan akan menghindari lima perdagangan yang salah.

>> File lengkap hubungi admin !

Komparasi Konsep Keselamatan Agama Hindu dan Konsep Keselamatan Agama Buddha

Komparasi Konsep Keselamatan Agama Hindu dan Konsep Keselamatan Agama Buddha

oleh: Ike Nindiya

ABSTRACT

Nindiya, Ike. 2012. Comparison Between Safety Concept of Hindu and Buddha. Undergraduate Thesis. Major Dharmaduta. Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang Banten. Advisor I Corneles Wowor, M.A., and Advisor II Heriyanto, M.Kom.

Key Words: Safety Concept of Hindu, Safety Concept of Buddha

The background of this research is based on human phenomena which are fear of death and assume that death is scary thing. it happens to the religionist and common people. The basic of Hindu and Buddha are two religions which have different methods of teaching. As development goes by, the safety concept of two religions emphasizes the same pattern, even the origin of creation Hindu exists at the same era with Buddha. This rally point presents the continuity of atmosphere and acculturation inside of it. The objective of this undergraduate thesis are describe the Hindu safety concept and Buddha safety concept.

The writer tries to find the root of problem to be observed in this study. The method of this study is literature study with theology approach. In this research, the writer does a research with literature study, which are collecting data from various literature of Hindu and Buddha, text books, and internet resources or magazines to support this research.

The conclusion of this undergraduate thesis is safety concept based on Hindu and Buddha have the point of view responding the phenomena related with human and external factor which is related with the method to find protection and safety as earthly life and multi-earthly life. The process to find safety is observed with two point of view, Buddha and Hindu, each of them contributes perspective solution to find safety and implies to the human as a subject to be undergone.

At last, the writer suggests that with the observation to the safety concept of Hindu-Buddha especially open mindset to understand and apply religion teaching to the daily life. This undergraduate thesis is made to open up mindset both internally and externally. The writer hopes that after reading this undergraduate thesis, the reader can grow the attitude to appreciate each other religion and can create harmony each religion so they can realize a better life.

Konsep Keselamatan Agama Buddha

Konsep Keselamatan Agama Hindu dan Konsep Keselamatan Agama Buddha

KESIMPULAN

Keselamatan adalah suatu keadaan terbebas dari segala bentuk marabahaya, malapetaka, bencana dan lain sebagainya. Dalam usaha mencari keselamatan, manusia mengusahakan banyak cara, dari cara yang nyata, sampai yang abstrak. Cara yang nyata ditempuh dengan mempelajari dan mengamalkan hukum kamma. Meyakini hukum kamma yang ditambah dengan membangkitkan pikiran-pikiran positif, melaksanakan perbuatan melalui saluran pikiran, ucapan dan perbuatan, maka senantiasa mengkondisikan batin menjadi tenang. Ini adalah cara yang cukup efektif, walaupun hasil jangka panjang tidak dapat ditentukan tetapi efek nyatanya dapat langsung dirasakan.

Berikutnya kasta bukanlah penentu keberhasilan spiritual seseorang, banyak yang beranggapan kasta yang lebih tinggi dengan selalu melakukan upacara dapat membebaskan diri dari karma buruk, sehingga para Brahmana pastilah seorang suci. Hal tersebut bukanlah suatu jaminan karena kesucian ditentukan oleh kondisi batin bukan berasal dari jenis pekerjaan maupun kedudukan. Upacara adalah suatu cara yang abstrak, cara ini kurang efektif, karena hasilnya tidak dapat langsung dirasakan. Walaupun disertai dengan mindset yang gembira pada saat melaksanakan tetapi hal tersebut hanya menguntungkan diri sendiri saja, tidak mengkondisikan kebahagiaan bagi pihak lain. Dengan upacara, seseorang akan berusaha mencari perlindungan melalui makhluk-makhluk yang memiliki kemampuan lebih, ada yang meminta perlindungan kepada para dewa dengan persembahan kurban-kurban. Hal tersebut merupakan perlindungan yang akan lari meningglkan diri ketika tidak memberikan pengurbanan sebagai balas jasanya. Selain itu terdapat perlindungan yang tidak akan pergi meninggalkan diri kita walaupun tidak memberikan pengurbanan. Perlindungan yang demikian adalah perlindungan dengan menjalankan moralitas dan didukung oleh meditasi Vipassana Bhavana dan Kriya Yoga bagi yang meyakininya. Bagi meditator yang giat berlatih, semua latihan yang dijabarkan dalam meditasi, seluruhnya bersifat konstruktif, tiada yang menurunkan kualitas meditator.

” untuk skripsi lengkap dapat menghubungi admin melalui kolom komentar “