Etika Komputer dan Kompetensi Content Evaluation sebagai Strategi Menangkal Radikalisme Guna Meningkatkan Nasionalisme Di Era Digital

Bagaimana etika komputer dan kompetensi content evaluation menjadi sebuah strategi menangkal radikalisme menjadi permasalahan dalam kajian ini. Tujuan kajian adalah mendeskripsikan etika komputer dan kompetensi content evaluation sebagai strategi menangkal radikalisme guna meningkatkan nasionalisme di era digital.

Pembahasan dalam kajian ini menggunakan teknis analisis Sintesis Wacana. Analisis terdiri pendahuluan, lanjutan, dan akhir, dengan mempertimbangkan unsur teks, konteks, dan wacana. Sintesis yang dilakukan merupakan kelanjutan dari proses analisis dalam upaya merekonstruksi teks dan konteks. Sintesis dilakukan dengan menggunakan perbandingan, isu-isu, dan fakta dalam rangka menjelaskan implikasi etika komputer dan kompetensi content evaluation dalam menghadapi permasalahan radikalisme di era digital. Penelitian terdahulu, kasus, dan data yang didapatkan dengan teknik Netnography menjadi unsur penting dalam memenuhi subtansi teks dan konteks.

Hasil kajian menampilkan langkah-langkah dalam menangkal radikalisme di era digital, yaitu: a) Perilaku etis penggunaan teknologi, komputer, dan media sosial; b) Formulasi dan justifikasi kebijakan penggunaan teknologi, komputer, dan media sosial; c) Pendidikan etika komputer dan literasi digital; d) Pemahaman content evaluation dalam penggunaan internet dan media sosial; e) Menganalisis latar belakang informasi yang ada di internet juga meliputi identifikasi keabsahan berita dan informasi yang direferensikan media online.

 

Etika komputer dan kompetensi content evaluation sebagai strategi menangkal radikalisme guna meningkatkan nasionalisme di era digital

Sumber Gambar: Digital Ethics or the end of the age of LEGENDS cc licensed ( BY N C N D ) flickr photo by Cornelia Kopp: http://flickr.com /photos/alicepopkorn/2736173495/ Darren Kuropatwa Building Learning Communities Boston, MA July 2014.

Pendahuluan

Teknologi informasi dan komunikasi memberikan perubahan dan pola baru dalam memberikan ketersediaan, mendapatkan, dan meyebarkan informasi. Kemajuan teknologi digital dan internet menjadi tonggak terciptanya sumber-sumber informasi tanpa batas dan konvergensi media. Berbagai sumber, konten, dan media informasi terus bermunculan dengan trend yang mengikuti. Mulai bulan Maret 2016 jumlah website di dunia stabil berada di atas angka 1 miliar (http://www.internetworldstats.com). Untuk setiap menitnya terjadi 9.699 tweet melalui Twitter, lebih dari 27 miliar pesan individu dikirim per hari melalui Whatsapp, dan terjadi 70 juta upload baru melalui Instagram untuk setiap harinya.
Sporadisasi berbagai sumber informasi baru melalui perkembangan teknologi digital tidak selalu berada pada ranah positif. Tatanan sosial mengharuskan setiap masyarakat berkesadaran untuk mengarahkan aktivitas dan segala sesuatunya sesuai dengan etika, moral, dan hukum yang berlaku. Keharusan yang ada adalah bagaimana kemudahan-kemudahan sebagai dampak positif perkembangan teknologi harus tetap sejalan dengan perilaku dan penggunaan yang baik dan benar secara sosial.

Kenyataan yang ada di Indonesia, bentuk-bentuk teknologi digunakan sebagai media persuasi dan indoktrinisasi radikalisme serta propaganda negatif. Menikah dan baiat dari aplikasi Whatsapp yang dilakukan jaringan radikal dan ekstremis, diakui calon pelaku bom bunuh diri yang tertangkap di Bekasi sebelum melaksanakan aksi di Istana Negara (News.metrotvnews.com, 16/6/2017). Berbagai bentuk aplikasi media dan jejaring sosial juga menjadi pemicu terbentuknya jaringan, kelompok, group, dan komunitas online yang dalam kegiatannya tidak benar secara moral, sosial, dan hukum yang berlaku di Indonesia. Contoh nyata yaitu di blokirnya aplikasi Telegram di berbagai negara juga diikuti di Indonesia karena menjadi bentuk komunikasi ajaran radikalisme yang mengancam Pancasila dan mengikis nasionalisme terhadap negara Indonesia (tekno.kompas.com, 14/7/2017 & nasional.kompas.com, 30/11/2016).

Jika di breakdown kembali pada masyarakat pengguna teknologi dan internet di indonesia, minimnya penerapan etika berinternet dan banyaknya media online yang tidak lagi berorientasi pada kredibilitas data dan fakta tetapi lebih mengedepankan traffic pengunjung dan kecepatan upload berita menjadi potret permasalahan yang lambat laun akan menjadi besar. Hasilnya tidak semua informasi mampu dipertanggungjawabkan kebenarannya, tidak ilmiah, dan semakin banyaknya negatif and illegals contents beredar melalui media online. Penipuan, berita tidak benar (hoax), plagiarisme, pornografi dan pornoaksi, serta cyberbullying merupakan beragam permasalahn yang terjadi.

Etika dan moral harus tetap diutamakan dalam penggunaan berbagai bentuk teknologi. Etika komputer merupakan analisis mengenai dampak sosial teknologi komputer serta penciptaan berbagai aturan dan kebijakan dalam penggunaan teknologi tersebut secara etis. Etika komputer menjadi sebuah upaya untuk saling mengembangkan standar perilaku penggunaan teknologi yang disepakati untuk memajukan serta mempertahankan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Etika ditransformasikan ke dalam aspek luas yang tidak terbatas aktivitas dan wilayah tertentu saja. Urgensi etika komputer dalam konteks mempertahankan nilai-nilai sosial kemanusiaan melalui perilaku penggunaan teknologi secara benar, benar secara moral, sosial, dan hukum yang berlaku.

Pemahaman mendalam dan kemampuan berpikir kritis dalam memberikan penilaian terhadap apa yang ditemukan secara online juga sangat penting dalam menyikapi berbagai informasi yang ada sekarang ini. Content evaluation disertai dengan kemampuan untuk mengidentifikasi keabsahan dan kelengkapan informasi menjadi sebuah kemampuan yang harus menyatu terhadap individu yang merupakan bagian dalam masyarakat sosial. Content evaluation juga merupakan kemampuan menganalisis latar belakang informasi yang ada di internet dan kesadaran untuk menelusuri lebih jauh mengenai sumber dan pembuat informasi.

Beberapa kasus menampilkan lemahnya content evaluation dalam penggunaan teknologi di indonesia. Fenomena yang ada, penggunaan teknologi hanya berkutat pada proses mencari, mendapatkan, dan menyebarkan informasi. Sedangkan proses penting dalam literasi digital seperti content evaluation dan penciptaan knowledge baru belum banyak dilakukan. Dampaknya, lemahnya evaluasi terhadap berita yang ada, sulit membedakan berita benar dan berita bohong, mudah terhasut dan terprovokator yang dilakukan melalui media dan jejaring sosial internet. Jika dikaji lebih mendalam, group dan komunitas yang dilakukan dengan dukungan internet juga membentuk kelompok-kelpompok sosial tertentu dengan tujuan dan visi tertentu. Group dan komunitas yang dibangun melalui internet menjadi sekat-sekat dalam sistem sosial yang membawa pada semangat nasionalisme yang juga terkota-kotak berdasarkan kelompok tertentu saja. Gap antara kelompok individu satu dengan kelompok lainnya akan semakin besar dan dapat mengancam persatuan dalam sistem tatanan sosial. Kebebasan berekspresi juga memiliki batas-batas tertentu yang bukan hanya batasan yang ada dalam komunitas dan kelompok tertentu, tetapi harus disadari bahwa dalam mencapai tujuan dan melaksanakan misi tertentu harus menyadari adanya hak orang lain dalam sistem masyarakat yang komprehensif. Lebih spesifik, content evaluation akan sangat berperan dan menentukan sikap kita dalam menerima informasi yang beragam dan menjadi benteng kuat dari segala macam penyebaran isu, paham, kampanye, dan ajaran intoleran yang mengikis jiwa Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), UUD 45, dan Bhineka Tunggal Ika.

Bagaimana etika komputer dan kemampuan content evaluation menjadi sebuah strategi menangkal radikalisme menjadi permasalahan dalam kajian ini. Penggambaran konteks etika komputer dan kemampuan content evaluation dalam era digital dan masyarakat modern digunakan untuk merumusakan langkah-langkah strategis melalui proses sintesis yang digunakan untuk menangulangi konteks permasalahan radikalisme dan merosotnya nasionalisme di Indonesia dengan pendekatan teknologi.

Metodologi

Pembahasan dalam kajian ini menggunakan teknis analisis sintesis. Analisis terdiri pendahuluan, lanjutan, dan akhir, dengan mempertimbangkan unsur teks, konteks, dan wacana (zed, 2008: 71, 76-77). Sintesis yang dilakukan merupakan kelanjutan dari proses analisis dalam upaya merekonstruksi teks dan konteks. Sintesis dilakukan dengan menggunakan perbandingan dan isu-isu dan fakta dalam rangka menjelaskan implikasi etika komputer dan kemampuan content evaluation dalam menghadapi permasalahan radikalisme dan nasionalisme di Indonesia. Teks dalam kajian tidak dipahami semata-mata sebagai studi bahasa dan tidak sekadar kata-kata yang tercetak atau tertulis. Teks dalam kajian ini merupakan semua jenis komunikasi, ucapan, kejadian, gambar, suara, musik, citra, dan sebagainya yang berkaitan dengan etika komputer dan kemapuan content evaluation, serta radikalisme dan nasionalisme di Indonesia.

Penelitian terdahulu, kasus, dan data yang didapatkan dengan teknik Netnography menjadi unsur penting dalam memenuhi subtansi teks dan konteks dalam kajian. Konteks menggambarkan relasi antarteks dengan memasukan semua situasi yang terkait pula dengan situasi di luar teks, digunakan untuk mencapai tujuan berkaitan dengan implikasi etika komputer dan kemampuan content evaluation, dalam mengatasi radikalisme dan nasionalisme. Sedangkan wacana merupakan upaya mengungkapkan maksud pemahaman teks dan konteks, baik yang tersirat dari berbagai teks maupun yang tergambar jelas pada teks etika komputer dan kemampuan content evaluation dalam implikasinya pada radikalisme dan nasionalisme. Sistesis pendahuluan dilakukan dengan upaya penggabungan secara konsisten antara analisis dan sintesis, meliputi fakta, gagasan, konsep, pandangan, teori, dan metode. Sistesis pendahuluan berupaya menata kembali analisis dalam rangka menjelaskan komponen etika komputer dan kemampuan content evaluation, dalam mengatasi radikalisme dan nasionalisme di Indonesia.

Paper Seminar Nasional Dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang Banten

. Download artikel Etika Komputer di Era Digital

Advertisements

About heriyanto lim
Heriyanto, Lecturer at the State College Buddhist of Sriwijaya. Subject: Computer Science, Multimedia and Statistics (Certificates of expert-level statistics). IT Support Specialist, Maintenance and Programming (Java, Visual Basic, etc).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: